Perilaku
kekuatan dan daktilitas merupakan masalah dalam kolom beton mutu tinggi yang
hingga kini masih terus diteliti di berbagai negara. Pemasangan tulangan
lateral sebagai pengekang
pada penampang inti kolom dimaksudkan untuk meningkatkan tegangan lateral sehingga
menambah kekuatan dan memperlambat proses keruntuhan kolom beton mutu tinggi terkekang
sehingga menjadi lebih daktil. Semakin besar kuantitas tulangan lateral yang dipasang,
semakin tinggi kekuatan dan daktilitas kolom beton mutu tinggi. Beberapa penelitian
mengenai perilaku kekangan pada kolom beton mutu tinggi umumnya dilakukan pada
beton mutu tinggi yang terdiri atas bahan butiran (agregat) dan kontinu (well
graded aggregates). Sementara di
Indonesia, tidak semua daerah memiliki bahan butiran yang kontinu,
sehingga perlu diteliti pengekangan beton mutu tinggi yang terbuat dari bahan butiran
yang bercelah (gap graded aggregates).
Penelitian
ini bertujuan (1) mengamati perilaku beton mutu tinggi yang terkekang dan tidak
terkekang, baik dengan bahan butiran kontinu maupun butiran bercelah, (2)
mengamati perilaku
beton mutu tinggi terkekang dengan meninjau parameter nisbah tulangan lateral untuk
mengetahui efektivitasnya dalam memperlambat pengembangan lateral beton, dan
(3) mengamati
perilaku kolom beton mutu tinggi dengan menggunakan bahan lokal yang ada di Indonesia.
Pada penelitian beton dengan gradasi butiran bercelah ini, dicari porsi atau
besar gap
yang diperlukan agar kekuatan dan kemudahan dalam pengerjaan tetap dapat dipertahankan.
Hasil
percobaan menunjukkan bahwa butiran bergradasi diskontinu mempunyai perilaku
kekangan yang sama dengan kolom yang terbuat dari gradasi butiran kontinu.
Hal ini berarti
bahwa beton mutu tinggi yang terbuat dari bahan butiran bercelah dapat juga diaplikasikan
pada struktur kolom beton mutu tinggi. Penelitian ini dilakukan pada benda
uji silinder
dan kolom pendek yang dipasangi tulangan lateral sebagi pengekang, yang merupakan
dasar bagi penelitian kolom beton mutu tinggi. Penelitian ini dapat terus dikembangkan
pada struktur kolom, terutama dengan beban eksentris yang lebih aplikatif di lapangan.
|
Tampilkan postingan dengan label struktur beton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label struktur beton. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 September 2012
Kontribusi Kekang pada Perilaku Mekanik Struktur Kolom yang Terbuat dari Beton Mutu Tinggi dengan Gradasi Bercelah
Beton Agregat Prepak untuk Perbaikan dan Produksi Struktur Beton Bertulang
|
Pembangunan
struktur beton seringkali menghasilkan cetakan komponen struktur beton bertulang
yang kurang sempurna, sehingga terjadi bagian-bagian yang keropos, berbentuk seperti
sarang lebah (honey comb) atau malah berongga sepenuhnya. Struktur
beton dengan bagian-bagian
yang kurang sempurna tentunya tidak dapat diterima karena tidak akan dapat memenuhi
persyaratan kekuatan dalam masa layannya. Tidak jarang terjadi struktur yang cacat
demikian tidak diterima dan diruntuhkan, untuk kemudian dibangun kembali
dengan lebih
baik. Hal ini berarti terbuangnya dana yang sangat besar. Tujuan penelitian ini
ialah mencari
cara memperbaiki struktur beton tulang yang mengandung sarang lebah atau
cacat lainnya
tanpa meruntuhkan terlebih dahulu seluruh atau sebagian besar struktur
tersebut. Bagian
struktur yang bercacat terlebih dahulu dipahat untuk membuang bagian-bagian
yang lepas
serta membentuk ruangan atau lubang yang cukup besar. Kemudian, bila dianggap perlu,
tulangan dapat diperbaiki atau ditambahkan sebagaimana mestinya lalu diisikan
agregat kasar
ke dalam lubang tersebut. Sesudah
diberi penutup cetakan secukupnya, ke dalam lubang
tersebut diinjeksikan (grouting) cairan campuran semen dengan berbagai
bahan tambahan
(additives). Beton yang diproduksi dengan cara demikian disebut beton
Agregat-Prepak
(A-P Concrete). Teknik pembuatan beton untuk perbaikan kerusakan
struktur tersebut kemudian
dikembangkan mejadi teknologi baru dalam produksi bangunan atau komponen struktur
beton baru. Namun bersamaan dengan perkembangan teknologi tersebut,
berkembang pula
berbagai masalah yang harus diatasi, antara lain mutu dan sifat bahan beton
yang diproduksi
dengan cara injeksi, kecuali mutu agregatnya, sangat dipengaruhi oleh mutu
cairan semennya
(grout).
Dalam
penelitian ini grout didapat dari campuran air dan semen yang dibubuhi
bahan tambahan
seperti abu terbang dari limbah pembangkit listrik tenaga uap dan gerusan
berbagai terak
dari industri baja dan nikel. Selain itu, untuk memperbaiki viskositasnya
kendati dengan menggunakan
air sedikit, ditambahkan pula aditif kimia seperti superplasticizer.
Teknologi produksi
beton A-P dengan abu terbang ini dapat menghasilkan beton dengan kekuatan
52.7 MPa
pada umur 90 hari, yaitu lebih dari 2 kali beton yang biasa digunakan dalam
struktur beton
tulang biasa dan masih jauh di atas kekuatan beton pratekan yang biasa
dipersyaratkan, yaitu
kuat tekan 35-45 MPa.
|
Mekanis Balok Beton Bertulang Hibrid dengan Bukaan pada Badan
Penelitian
ini bertujuan mengetahui ciri beton normal dan beton ringan serta perilaku mekanis
balok-T beton bertulang hibrid dengan bukaan serta pengaruh dimensi dan lokasi bukaan
pada balok tersebut akibat beban monotonik dan siklik. Dalam penelitian ini,
studi teoretis
dan eksperimental dilaksanakan untuk menentukan pengaruh bukaan pada respons balok-T
beton bertulang hibrid. Pengaruh bukaan pada perilaku mekanik statik dari
balok-balok
ini pada tahapan pembebanan yang berbeda œ tahap beban kerja; tahap beban
leleh; dan tahap
beban batas œ akibat pembebanan
siklik, juga disajikan. Percobaan eksperimental mencakup
pengujian dan penelitian respons struktur dari delapan balok-T beton
bertulang hibrid,
yang sebagian dibangun dengan beton ringan.
Spesimen-spesimen didesain dengan dimensi
dan letak penulangan yang sama. Bukaan diletakkan dalam badan setiap balok, masing-masing
pada daerah lentur murni, daerah geser tinggi, dan daerah lentur-geser
tinggi. Balok-balok
ini dibebani secara monotonik dan siklik, di bawah pembebanan lentur murni dan
kombinasi lentur dan geser. Variabel utama penelitian adalah dimensi bukaan
dan lokasi horisontal
sepanjang panjang balok. Perilaku spesimen dibahas dalam perumusan performansnya
terhadap beban batas, pola retak, model keruntuhan, daktilitas, degradasi kekuatan,
dan kekakuan, serta kapasitas disipasi energi. Hasil dari analisis statik
elemen hingga
non-linear disesuaikan dengan hasil pengujian monotonik dari tiga balok-T
beton bertulang
hibrid. Pengaruh dimensi bukaan dan lokasi horizontal pada perilaku monotonik diselidiki
terhadap deformasi, tegangan, retak, model keruntuhan, dan kapasitas kekuatan batas.
Kecocokan antara hasil analisis
teoritis dan eksperimental diperlihatkan. Lebih jauh, suatu
studi parametrik juga dilakukan pada balok-T dengan bukaan untuk mendapatkan nisbah
distribusi gaya geser di antara chord-chord bukaan; untuk menentukan
domain yang pengaruh
kelangsingan dalam chord tekannya dapat diabaikan; untuk mengembangkan prosedur
desain terhadap retak chord-chord bukaan; dan untuk mengestimasi
lendutan maksimum
balok; juga untuk memperoleh kapasitas batas dari balok-T beton bertulang hibrid.
Dari keseluruhan rangkaian penelitian diketahui kurva korelasi kuat tekan dengan modulus elastisitas dari beton normal dan beton ringan; persamaan distribusi gaya geser yang diterima oleh chord atas dan chord bawah bukaan; prosedur perencanaan untuk mengestimasi keretakan chord-chord bukaan; prosedur sederhana untuk menentukan defleksi relatif antara sisi-sisi bukaan; serta metode untuk mengestimasi kapasitas batas balok-T beton bertulang hibrid dengan bukaan terhadap berbagai model keruntuhan. Direkomendasikan bahwa penempatan bukaan sebaiknya diletakkan pada daerah yang didominasi oleh lentur. Geometri bukaan diletakkan secara mendatar dengan sisi panjang bukaan searah sumbu panjang balok. Untuk mengatasi kebutuhan bukaan yang terlampau besar, alternatifnya dapat digunakan multibukaan. Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari pengaruh variasi jumlah dan susunan tulangan sengkang sekitar bukaan, jarak efektif antara bukaan dan tumpuan dan bukaan dengan beban aplikasi. |
Jumat, 21 September 2012
Fondasi Cakar Ayam pada Model di Laboratorium
Fondasi
cakar ayam diciptakan oleh Sediyatmo pada tahun 1961, ketika membangun menara
listrik tegangan tinggi dengan kondisi tanah yang berawa. Fondasi ini telah
banyak digunakan
untuk bangunan gedung, landasan pacu, menara, dan lainnya. Masih banyak pertanyaan
yang belum terjawab oleh para ahli geoteknik di Indonesia terutama tentang penggunaannya
yang cocok di lapangan. Untuk merancang struktur fondasi cakar ayam, beberapa
faktor harus dipertimbangkan, yaitu modulus reaksi subgrade tanah ( hk
dan k v), jarak,
panjang, dan diameter cakar (pipa beton) serta tebal pelat. Masalah yang
dihadapi oleh para
perancang fondasi cakar ayam saat ini ialah belum adanya formula yang dapat
dipahami dan
dapat dipertanggungjawabkan.
Pengujian
dilakukan pada model 2-dimensi, semi-3-dimensi, dan 3-dimensi. Pada model
2-dimensi, pelat cakar ayam dimodelkan dengan pelat Plexiglass tebal 3-5 mm
dan pipa
cakar ayam dimodelkan dengan besi U tebal 2 mm. Pada model semi 3-dimensi dan
3-dimensi
juga dipakai bahan yang sama tetapi tebalnya 2 cm dan cakar dimodelkan dengan pipa
polivinil klorida berdiameter 10.5 cm yang ditempelkan pada pelat Plexiglass
tersebut. Penelitian
dilakukan dengan meragamkan jarak, diameter, panjang cakar, tebal pelat
fondasi, jenis
tanah dasar, dll.
Dari
hasil pengujian perilaku sistem cakar ayam di laboratorium dan analisis
hitungan yang
telah dilakukan dapat disimpulkan hal-hal berikut.
Cakar
berfungsi sebagai pengaku pelat. Saat sistem cakar ayam dibebani, pelat melendut.
Lendutan mengakibatkan cakar berotasi. Rotasi cakar mengakibatkan bekerjanya tekanan
tanah di sekitar cakar yang melawan lendutan pelat. Hasilnya, kekakuan pelat bertambah
sehingga lendutan lebih kecil bila dibandingkan lendutan pelat tanpa cakar. Kekakuan
sistem cakar ayam bergantung pada kerapatan cakar atau jarak cakar, panjang cakar,
diameter cakar, tebal pelat. Bila jarak cakar mengecil, ketiga parameter
membesar, maka
pelat menjadi kaku.
Pada
umumnya, lendutan pelat maksimum terjadi di bawah beban dan penyebaran lendutan
bergantung pada besarnya beban. Untuk sistem cakar ayam dengan jarak cakar
2.5 m (pada
prototipe yang sudah ada), lendutan menyebar sampai radius 4-5 meter. Oleh
sebab itu pada
kondisi tanah dan geometri sistem cakar ayam yang mendekati tempat-tempat
tersebut, sistem
cakar ayam cukup dianalisis untuk luasan pelat 10 m þ 10 m atau diameter 10
m. Lendutan
bertambah bila beban bertambah besar. Hal ini mengoreksi pendapat Sediyatmo bahwa
bila beban bertambah 2 kalinya, besar lendutan atau tekanan kontak antara
tanah dan pelat
sama, hanya penyebaran lendutan bertambah (juga 2 kalinya).
Pada
pembebanan ganda (beban dua kali beban tunggal) diperoleh lendutan maksimum yang
lebih besar dan penyebaran lendutan lebih melebar bila dibandingkan dengan
beban tunggal.
Rotasi cakar terbesar ialah cakar yang terletak di dekat titik beban.
Hitungan
penurunan tanah dasar akibat konsolidasi tanah perlu diperhitungkan pada perancangan
sistem cakar ayam. Hitungan penurunan dilakukan sama seperti hitungan penurunan
untuk fondasi rakit, yaitu dengan menganggap dasar cakar sebagai dasar
fondasi rakit.
Penurunan sistem cakar ayam yang terletak pada timbunan ialah penurunan total
akibat kompresi
tanah dasar, kompresi tanah bahan timbunan di bawah cakar, dan lendutan pelat akibat
beban. Bila hasil analisis penurunan memberikan nilai penurunan yang
berlebihan, maka
tanah di bawah sistem cakar ayam harus diperbaiki lebih dahulu dengan
menggunakan cara-cara
perbaikan tanah yang lazim digunakan untuk penanganan tanah yang lunak (preloading,
vertical drain, dll.).
Rotasi
cakar tidak sampai meruntuhkan tanah sehingga tekanan tanah di sekitar cakar lebih
cocok bila tanah ditinjau masih dalam kondisi elastis. Gaya perlawanan tanah
lebih
|
Langganan:
Postingan (Atom)