Tampilkan postingan dengan label rekayasa lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekayasa lingkungan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Maret 2014
Senin, 03 Februari 2014
Ebook - REKAYASA LINGKUNGAN
Bagi Mahasiswa Teknik Sipil, memiliki Referensi Buku Teknik Sipil merupakan hal yang wajib, namun terkadang untuk memiliki semua Buku Teknik Sipil itu tidak mudah. karena bukan tidak tersedianya buku, namun kadang kita dihadapkan pada persoalan biaya untuk memiliki Buku Teknik Sipil tersebut.
Jika kita kesulitan untuk memiliki Buku Teknik Sipil karena tidak memiliki dana yang besar, maka saat ini sudah banyak Ebook Teknik Sipil yang tersedia di internet untuk menjawab kebutuhan tersebut, anda bisa memperolehnya dengan gratis. Biaya yang anda keluarkan hanyalah biaya internet tentunya. karena untuk mendapatkan Buku Teknik Sipil dalam bentuk Ebook harus terkoneksi dengan internet.
Banyak kelebihan yang bisa kita dapatkan pada Ebook Teknik Sipil jika dibandingkan dengan Buku Teknik Sipil dalam bentuk cetak, yaitu anda bisa mendapatkannya dengan gratis dan mudah dibawa kemana saja dalam jumlah yang banyak, karena Ebook Teknik Sipil ini dalam bentuk file. Walaupun banyak yang lebih suka membaca Buku Teknik Sipil melalui Buku cetak, namun Ebook Teknik Sipil sangat bermanfaat bagi kita yang memiliki keterbatasan biaya.
Semoga bermanfaat dan selamat belajar.

Sabtu, 22 September 2012
Cacing Tanah dan Serasah untuk Mempercepat Proses Revegetasi Lahan Bekas Penambangan Batu Bara
|
Penambangan
batu bara dengan sistem terbuka telah mengubah ekosistem secara drastis, lahan
yang sebelumnya berupa hutan berubah menjadi cekungan dan gundukan lahan
kosong dengan
tingkat kesuburan rendah. Untuk mengembalikan ekosistem seperti keadaan sebelumnya,
perusahaan pertambangan diwajibkan mereklamasi lahan bekas penambangan, di
antaranya dengan mengembalikan topografi dan mengadakan penanaman kembali.
Proses ini
sering terhambat karena kesuburan tanah bekas tambang biasanya rendah. Untuk percepatan
proses di atas dilakukan penelitian ini dengan menggunakan serasah dan cacing tanah.
Berbagai
macam serasah digunakan dalam penelitian ini dan serasah yang paling disukai
oleh cacing tanah (Ponthoscolex corethrurus) digunakan untuk
penelitian lanjut. Tanaman
yang diteliti ialah turi (Sesbania grandiflora) dan lamtoro (Leucaena
leucochepala). Penelitian
dilakukan di laboratorium dan rumah kawat, kemudian tahap berikutnya
dilakukan di
lapangan.
Serasah
yang paling disukai oleh cacing tanah ialah serasah daun kerinyu (Eupatorium odoratum). Kecepatan
dekomposisi serasah per cacing tanah ialah 30.5 mg per hari. Pemberian
serasah atau serasah dan cacing tanah meningkatkan pH tanah dan ketersediaan hara
pada kondisi rumah kawat. Pertumbuhan tanaman pada tanah tambang yang diberi serasah
atau serasah dan cacing tanah lebih tinggi daripada tanah tambang yang tidak
diberi perlakuan
dan tidak berbeda nyata dengan pertumbuhan tanaman pada topsoil.
Percobaan
yang dilakukan di lapangan menyatakan bahwa cacing tanah tidak mampu hidup
dengan baik di tanah bekas pertambangan. Faktor kepadatan tanah diduga
menjadi faktor
penghambat bagi cacing tanah dan tanaman untuk tumbuh dan berkembang.
|
Potensi dan Produktivitas Gasbio dari Tempat Pembuangan Sampah Kota sebagai Sumber Energi Alternatif
|
Penelitian
ini bertujuan melihat produktivitas biogas dari degradasi sampah kota dalam beberapa
kondisi, sebagai simulasi proses yang terjadi di tempat pembuangan akhir
(TPA) sampah
dengan sistem landfill. Proses anaerob yang terjadi pada sampah di
dalam landfill akan
menghasilkan gasbio. Gas tersebut berpotensi menimbulkan ledakan bahkan
kebakaran bila
tidak dikelola secara baik. Penelitian ini dilakukan dalam reaktor bervolume
sekitar 13 liter
dan reaktor 196 liter.
Hasil
percobaan menunjukkan bahwa kelembapan memegang peranan penting. Hasil yang diperoleh
secara umum menunjukkan bahwa kelembapan sangat berpengaruh pada proses pembentukan
gas. Pada kelembapan sampah yang lebih tinggi (75%) gas metana (CH 4) lebih mudah
terbentuk. Produksi gas yang lebih tinggi juga diperoleh bila reaktor
diinkubasi pada
Jenis
sampah mempengaruhi kecepatan proses pembentukan gas metana. Sampah segar memerlukan
waktu yang sangat panjang untuk membentuk gas metana dibandingkan sampah yang
telah berumur berumur lebih tua (> 6 bulan). Akumulasi asam atsiri pada
sampah segar yang
sedang mengalami proses dekomposisi dalam fase asidogenesis berpengaruh pada lambatnya
produksi gas metana. Resirkulasi lindi ke dalam media sampah dapat mempertahankan
kelembapan sampah serta menambah produksi gas. Gabungan ketiga kondisi
tersebut memberikan hasil laju pertumbuhan bakteri maksimum (µm) = 0,025,
waktu retensi
minimum (q) = 39 hari,
parameter kinetika (K) = 0,182 dan produksi gas Bo = 3,60 l/kg
VS. Penambahan lumpur tangki septik pada sampah serta resirkulasi lindi ke
dalam sampah
memberikan hasil laju pertumbuhan bakteri maksimum (µm) = 0,015, waktu
retensi minimum
(q) = 68 hari dan
parameter kinetika (K) = 0,35 dengan produksi gas Bo sebesar 9,909
l/kgVS.
Hasil-hasil
tersebut menunjukkan bahwa sampah mempunyai potensi yang cukup baik untuk
digunakan sebagai sumber energi yang murah, terutama pada saat kondisi
anaerob telah dicapai,
misalnya pada landfill yang sudah ditutup. Gas yang dihasilkan akan
cukup banyak, mengingat
sampah yang tertimbun di TPA sampah sangat besar jumlahnya
|
Penanggulangan Pencemaran oleh Limbah Cair Industri Pengolahan Hasil Pertanian Tingkat Menengah dan Rendah dengan Teknik Kolam Ganggang
|
Penanggulangan
limbah oleh industri besar tidak menjadi masalah, berbeda halnya dengan
industri menengah dan kecil, mengingat sarana dan biaya pengoperasiannya yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan mencari cara atau metode alternatif penanganan
limbah cair dengan
memodifikasi teknik kolam ganggang sehingga teknologi dan biaya pengadaan
serta pengoperasiannya
terjangkau oleh industri menengah ke bawah.
Teknik
kolam ganggang atau lagoon merupakan cara pengolahan limbah cair dengan menafaatkan
pertumbuhan ganggan fotosintesis dengan proses fakultatif anaerob serta merupakan
cara yang paling sederhana dibandingkan cara-cara lainnya. Cara ini sangat cocok untuk
negara berkembang. Kebutuhan oksigen hayati (BOD) dan kebutuhan oksigen kimia (KOK)
dapat dikurangi sampai 60-80%. Pada dasarnya teknik kolam ganggang terdiri
atas banyak
kolam yang terbuat dari semen atau logam dengan kapasitas yang besar dan dilengkapi
dengan berbagai peralatan pengendali, pengatur kondisi untuk menumbuhkan ganggang,
penyaring, sedimentasi, denitrifikasi, dan klorinasi. Teknik ini dapat
dimodifikasi sehingga
menjadi peralatan yang sederhana dengan biaya relatif murah bagi industri menengah
ke bawah. Modifikasi tersebut pernah dikerjakan di India pada tahun 1970-an dengan
menggunakan dua kolam pengolah untuk mengolah limbah cair di pedesaan. Kolam pertama
untuk menumbuhkan ganggang dan yang kedua untuk penjernihan. Meskipun demikian
masih diperlukan beberapa alat seperti pompa dan bak penyaring.
|
Langganan:
Postingan (Atom)