Tampilkan postingan dengan label civil engineering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label civil engineering. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2012

MANAJEMEN KONSTRUKSI



BAB 1

MANAJEMEN REKAYASA


PENDAHULUAN

Pemahaman tentang konstruksi dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu teknologi konstruksi (construction technology) dan manajemen konstruksi (construction management). Kedua hal tersebut saling terkait satu sama lain dan bersinergi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan proyek.
Teknologi konstruksi (construction technology) mempelajari metoda atau teknik yang digunakan untuk mewujudkan bangunan fisik dalam lokasi proyek. Dalam bahasa Inggris, istilah technology berasal dari kata techno dan logic. dapat diartikan sebagai urutan dari setiap langkah kegiatan (prosedur), misalnya kegiatan X harus dilaksanakan lebih dahulu, kemudian baru kegiatan Y dan seterusnya, sedangkan techno adalah cara yang harus digunakan secara logic.
Manajemen konstruksi (construction management), adalah bagaimana agar sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat. Sumber daya dalam proyek konstruksi dapat dikelompokkan menjadi manpower, material, machines, money, methode.
Proyek rekayasa sipil mempunyai karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan industri lainnya (misal manufaktur). Salah satu cirinya adalah sifat unik dan tunggal. Kondisi ini menuntut adanya rancangan dan program pembangunan tersendiri.
Konsekuensi dari karakteristik proyek sipil adalah timbulnya kebutuhan akan suatu teknik atau manajemen yang lebih fleksibel sehingga dapat diaplikasikan ke berbagai jenis proyek, Dengan demikian, teknik manajemen harus disesuaikan untuk membentuk manajemen baru yang sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing proyek.
Proyek rekayasa sipil selama masa pembangunan bersifat dinamis, ditunjukkan dengan selalu berubahnya sumber daya yang dibutuhkan, baik jenis maupun jumlahnya. Perubahan ini sejalan dengan tahapan dari proyek itu sendiri. Di awal proyek, kebutuhan akan sumber daya relatif masih kecil dibandingkan tahap ditengah masa pelaksanaan yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan jenis dan jumlah sumber daya. Di akhir proyek, kebutuhan sumber daya berangsur-angsur menurun dan pada akhirnya tidak lagi dibutuhkan. Selanjutnya, dikatakan bahwa proyek telah selesai. Situasi ini berbeda dengan situasi industri lainnya dimana jumlah dan jenis sumber daya yang dibutuhkan mendekati konstan di setiap waktu.
Manajemen yang kaku dpat diaplikasikan dalam industri yang memiliki kebutuhan sumber daya (jenis dan jumlah) relatif konstan. Oleh karenanya, manajemen semacam itu sulit diterapkan untuk proyek rekayasa sipil  karena tidak efektif dan kurang efisien.
Dengan demikian, harus dibuat perancangan untuk teknik/manajemen yang dpaat mengakomodasi peninjauan dan penyesuaian secara terus-menerus di setiap saat dalam memenuhi kebutuhan yang ada demi menyelesaikan pekerjaan yang sedang berjalan.

HIDROLOGI TERAPAN



BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Umum

       Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, baik mengenai terjadinya, peredaran dan penyebarannya, sifat-sifatnya dan hubungan dengan lingkungannya terutama dengan makhluk hidup. Penerapan ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam beberapa kegiatan seperti perencanaan dan operasi bangunan air, penyediaan air untuk berbagai keperluan (air bersih, irigasi, perikanan, peternakan), pembangkit listrik tenaga air, pengendalian banjir, pengendalian erosi dan sedimentasi, transportasi air, drainase, pengendali polusi, air limbah, dsb.
    Hidrologi banyak dipelajari oleh para ahli di bidang teknik sipil dan pertanian. Ilmu tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan berikut :
  1. memperkirakan besarnya banjir yang ditimbulkan oleh hujan deras, sehingga dapat direncanakan bangunan-bangunan untuk mengendalikannya seperti pembuatan tanggulbanjir, saluran drainase, gorong-gorong, jembatan, dsb.
  2. memperkirakan jumlah air yang dibutuhkan oleh suatu jenis tanaman, sehingga dapat direncanakan bangunan untuk melayani kebutuhan tersebut.
  3. memperkirakan jumlah air yang tersedia di suatu sumber air (mata air, sungai, danau, dsb.) untuk dapat dimanfaatkan guna berbagai keperluan seperti air baku (air untuk keperluan rumah tangga, perdagangan industri), irigasi, pembangkit listrik tenaga air, perikanan, peternakan, dsb.
    Ilmu hidrologi lebih banyak didasarkan pada pengatahuan empiris daripada teoritis. Hal ini karena banyaknya parameter yang berpengaruh pada kondisi hidrologi di suatu daerah, seperti kondisi klimatologi (angin, suhu udara, kelembaban udara, penyinaran matahari), kondisi lahan (daerah aliran sungai, DAS) seperti jenis tanah, tata guna lahan, kemiringan lahan, dsb. Banyaknya parameter tersebut mengakibatkan analisis hidrologi sulit diselesaikan secara analitis. Disamping itu kondisi hidrologi juga sangat dinamis yang tergantung pada perubahan/kegiatan yang dilakukan oleh manusia, seperti perubahan tata guna lahan (penggundulan hutan, penghijauan, perubahan lahan sawah menjadi daerah pemukiman atau industri, perubahan hutan menjadi sawah atau fungsi lainnya), perubahan penutup permukaan tanah ( dari tanah, rumput, atau pepohonan menjadi permukaan aspal atau beton), dsb.


1.2. Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi merupakan proses kontinyu dimana air bergerak dari bumi ke atmosfer dan kemudian kembali ke bumi lagi. Neraca air tahunan diberikan dalam nilai relatif terhadap hujan yang jatuh di daratan (100%). Air di permukaan tanah dan laut menguap ke udara. Uap air tersebut bergerak dan naik ke atmosfer, yang kemudian mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air yang berbentuk awan. Selanjutnya titik-titik air tersebut jatuh sebagai hujan ke permukaan laut dan daratan. Hujan yang jatuh sebagian tertahan oleh tumbuh-tumbuhan (intersepsi) dan selebihnya sampai ke permukaan tanah. Sebagian air hujan yang sampai ke permukaan tanah akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan sebagian lainnya mengalir di atas permukaan tanah (aliran permukaan atau surface runoff) mengisi cekungan tanah, danau dan masuk ke sungaidan akhirnya mengalir ke laut. Air yang meresap ke dalam tanah sebagian mengalir di dalam tanah (perkolasi) mengisi air tanah yang kemudian keluar sebagai mata air atau mengalir ke sungai. Akhirnya aliran air di sungai akan sampai ke laut. Proses tersebut berlangsung terus-menerus yang disebut dengan siklus hidrologi.
Jumlah air yang ada di bumi dan yang berada dalam berbagai proses dalam siklus hidrologi di berikan dalam Tabel 1.1. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah air di bumi adalah 1,386 milyar km³; yang sebagian besar adalah air laut yaitu sebesar 96,5 %. Sisanya sebesar 1,7 % berupa es di kutub; 1,7 % sebagai air tanah dan hanya 0,1 % merupakan air permukaan dan air di atmosfer. Air di atmosfer yang merupakan sumber air permukaan hanya berjumlah 12.900 km³ atau kurang dari 1/100.00 dari seluruh air di bumi. Dari jumlah air tawar sebesar 35  juta km³, dua per tiganya adalah dalam bentuk es di kutub dan sisanya sebagian besar berupa air tanah pada kedalaman 200 sampai 600 m. Hanya 0,006 % berupa air tawar di sungai.
Jumlah air permukaan dan air atmosfer pada suatu waktu relatif kecil. Tetapi karena proses pembentukannya terjadi secara terus-menerus sesuai dengan siklus hidrologi, maka jumlahnya dalam satu tahun cukup besar. Neraca air tahunan global ditunjukkan dalam tabel 1.2. Dalam tabel tersebut beberapa parameter yang ditinjau dinyatakan dalam km³/tahun dan mm/tahun. Dimensi dalam mm/tahun diperoleh dengan membagi parameter dalam km³/tahun dengan luas, yang menunjukkan kedalaman parameter merata pada seluruh luasan.

1.3. Karakteristik Sungai dan Daerah Aliran Sungai

Aliran permukaan pada daerah tangkapan air (daerah aliran sungai, DAS) terjadi dalam beberapa bentuk yaitu :
1) aliran limpasan pada permukaan tanah,
2) aliran melalui parit/selokan,
3) aliran melalui sungai-sungai kecil, dan
4) aliran melalui sungai utama.
Aliran limpasan pada permukaan tanah terjadi selama atau setelah hujan dalam bentuk lapisan air yang mengalir pada permukaan tanah.  Aliran tersebut masuk ke parit/selokan yang kemudian mengalir ke sungai-sungai kecil dan selanjutnya menjadi aliran di sungai utama. Karakteristik hidrologis dari daerah tangkapan air di pengaruhi oleh luas, bentuk, relief, panjang sungai, dan pola drainase daerah tangkapan.

1.3.1.  Tingkatan sungai

           Jaringan sungai dan anak-anak sungainya mempunyai bentuk seperti percabangan pohon. Parit-parit bergabung membentuk alur yang lebih besar, yang selanjutnya beberapa alur bergabung membentu anak sungai, dan kemudian beberapa anak sungai tersebut membentuk sungai utama. Jaringan sungai dapat diklasifikasikan secara sistemati menurut tingkatan alur sungai berdasar posisinya dalam jaringan. Tingkatan sungai ditetapkan berdasar ukuran alur dan posisinya; tingkatan terendah untuk alur terkecil yang merupakan sungai-sungai paling ujung dan tingkat yang lebih tinggi untuk alur yang lebih besar yang berada di daerah bagian hilir. Strahler (1952, dalam Thompson, 1999) menetapkan anak sungai paling ujung sebagai sungai tingkat satu. Apabila dua alur dengan tingkat yang sama bergabung, maka tingkat alur di bawah percabangan tersebut meningkat satu tingkat. Sebagai contoh, apabila dua anak sungai tingkat satu bertemu  akan membentuk sungai tingkat dua. Apabila dua sungai tingkat dua bergabung akan membentuk sungai tingkat tiga, demikian seterusnya. Apabila sebuah sungai dengan suatu tingkat bertemu dengan sungai yang mempunyai tingkat lebih rendah maka tingkat sungai pertama tidak berubah. Misalnya sungai tingkat satu bergabung dengan sungai tingkat dua, maka sungai di hilir pertemuan tersebut adalah tetap sungai tingkat dua.

1.3.2.  Daerah Aliran Sungai

           Daerah aliran sungai (DAS) adalah daerah yang di batasi oleh punggung-punggung gunung / pegunungan dimana air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan mengalir menuju sungai utama pada suatu titik / stasiun yang di tinjau. DAS ditentukan dengan menggunakan peta topopgrafi yang dilengkapi dengan garis-garis kontur. Untuk maksud tersebut dapat digunakan peta topografi dengan skala 1: 50.000, yang dapat diperoleh dari Direktorat Geologi, Dinas Topografi Angkatan Darat atau instansi lain.  Garis-garis kontur dipelajari untuk menentukan arah dari limpasan permukaan. Limpasan berasal dari titik-titik tertinggi dan bergerak menuju titik-titik yang lebih rendah dalam arah tegak lurus dengan garis-garis kontur. Daerah yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi tersebut adalag DAS. Gambar 1.4 menunjukkan contoh bentuk DAS. Dalam gambar tersebut ditunjukkan pula penampang pada keliling DAS. Garis yang mengelilingi DAS tersebut  merupakan titik-titik tertinggi. Air hujan yang jatuh di dalam DAS akan mengalir menuju sungai utama yang ditinjau, sedang yang jatuh diluar DAS akan mengalir ke sungai lain di sebelahnya.
          Luas DAS diperkirakan dengan mengukur daerah itu pada peta topografi. Luas DAS sangat berpengaruh terhadap debit sungai. Pada umumnya semakin besar DAS semakin besar jumlah limpasan permukaan sehingga semakin besar pula aliran permukaan atas debit sungai.

1.3.3.  Panjang sungai

           Panjang sungai diukur pada peta. Dalam memperkirakan panjang suatu segmen sungai disarankan untuk mengukurnya beberapa kali dan kemudian dihitung panjang reratanya. Panjang sungai adalah panjang yang diukur sepanjang sungai, dari stasiun yang ditinjau atau muara sungai sampai ujung hulunya. Sungai utama adalah sungai terbesar pada daerah tangkapan dan yang membawa aliran menuju muara sungai.
      Pengukuran panjang sungai dan panjang DAS adalah penting dalam analisis aliran limpasan dan debit aliran sungai. Panjang DAS L adalah panjang maksimum sepanjang sungai utama dari stasiun yang ditinjau (atau muara) ke titik terjauh dari batas DAS. Panjang pusat berat Lc adalah panjang sungai yang diukur sepanjang sungai dari stasiun yang ditinjau sampai titik terdekat dengan titik berat daerah aliran sungai. Pusat berat DAS adalah pusat berat titik perpotongan dari dua atau lebih garis lurus yang membagi DAS menjadi dua DAS yang kira-kira sama besar.
              Jumlah panjang sungai semua tingkat Lt adalah jumlah dari panjang semua segmen sungai semua tingkat. Lt digunakan untuk mengukur kerapatan sungai D, yaitu jumlah panjang sungai semua tingkat dalam DAS dibagi dengan luas DAS.

ILMU UKUR TANAH




BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Pengukuran Tanah

       Perkembangan ilmu pengukuran tanah berasal dari bangsa Romawi, yang ditandai dengan pekerjaan konstruksi diseluruh wilayah kekaisaran. Selanjutnya ilmu ini dilestarikan oleh bangsa Arab yang disebut ilmu geometris praktis. Pada abad ke 13, Von Piso dalam karyanya “Practica Geometri” menguraikan cara-cara pengukuran tanah, dilanjutkan oleh Liber Quadratorium mengenai pembagian kuadran (Russel C.B. & Paul R.W., 1987).
        Dari segi peralatan, astrolab adalah instrumen yang dipakai pada masa itu. Alat ini berbentuk lingkaran logam dengan penunjuk berputar di pusatnya, yang dipegang oleh cincin diatasnya dan batang silang (cross staff). Panjang batang silang menyebabkan jaraknya bisa diukur dengan perbandingan sudut.
         Sejalan dengan perkembangan zaman, pekerjaan pengukuran tanah memerlukan latar belakang latihan teknis pengalaman yang luas di lapangan. Daerah perkotaan berkembang cepat, sehingga petanya memerlukan revisi dan pembaharuan, untuk menggambarkan perubahan-perubahan yang secara profesional menguntungkan bagi banyak orang dalam berbagai cabang pengukuran tanah.


1.2. Geodesi dan Ukur Tanah

           Geodesi adalah ilmu yang mempelajari atau menentukan bentuk dan ukuran dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi, yang dinyatakan dengan angka atau peta. Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi, yang terdiri dari :
  • Geodesi tinggi : adalah ilmu untuk menentukan bentuk dan ukuran-ukuran permukaan bumi dan memproyeksikannya pada bidang elipsoida, serta menggambarkannya melalui ilmu proyeksi peta pada bidang datar.
  • Geodesi rendah : adalah ilmu ukur tanah dan ilmu ukur datar dengan kondisi lapangan terbatas pada penentuan bentuk dan ukuran permukaan bumi yang luasnya kurang dari (50×50) km2.
Oleh karenanya bidang referensi yang seharusnya berbentuk elipsoida dianggap sebagai bidang datar, sehingga bentuk permukaan bumi dapat diproyeksikan pada bidang datar.
1.3. Arti Penting Pengukuran Tanah
        Pengukuran tanah merupakan salah satu langkah yang sangat penting dalam bidang rekayasa, terutama dalam bidang teknik sipil. Pengukuran ini diperlukan untuk merencanakan antara lain : jalan raya, jembatan, terowongan, saluran irigasi, bendungan, bangunan gedung, serta pengkaplingan tanah. Para perencana dari bidang Teknik Sipil yang merancang pengukuran harus mengerti metoda dan instrumen yang dipakai termasuk kemampuan alat dan keterbatasannya.
Pengetahuan ini didapat dengan melakukan pengukuran menggunakan peralatan yang dipakai dalam praktek untuk memperoleh konsep mengenai teori kesalahan.
1.4. Peta dan macam Peta
           Peta merupakan gambaran dari sebagian permukaan bumi yang diperkecil dengan perbandingan antara jarak diatas peta dengan jarak yang sama diatas permukaan bumi, disebut sebagai skala peta.
Ketelitian dan penggunaan peta tergantung dari skala peta. Berdasarkan skala ini, maka peta dibagi dua bagian yaitu  (Suyono Sosrodarsono & Masayoshi Takasaki, 1992) :
(a) Berdasarkan ukuran
    • Peta teknis dengan skala 1 : 10.000
    • Peta topografi (detail) skala 1 : 10.000 – 1 : 100.000
    • Peta Geografi  <  1 : 100.000
    (b) Berdasarkan penggunaan
      • Peta jalan raya untuk keperluan pariwisata
      • Peta pengairan untuk keperluan pengaliran saluran air
      • Peta geologi menyatakan keadaan geologi suatu daerah
      • Peta hidrografi menyatakan dalamnya air laut dan situasi dasar laut yang berguna untuk pelayaran dan pembangunan dermaga
      • Peta situasi untuk perencanaan rancang bangunan sipil dan arsitektur.
      1.5.  Proses Pemetaan Terestris
                   Landasan pemetaan didasarkan pada pemikiran bahwa permukaan bumi bukan merupakan bidang datar, tetapi berbentuk bidang bola yang tidak teratur. Bidang ini kemudian didekati secara matematis dengan bentuk elipsoida yang mendekati bentuk speris yaitu bidang yang terbentuk akibat perputaran bumi mengelilingi sumbunya (gerak rotasi).
      Dalam proses pemetaan yang perlu diperhatikan adalah :
      (a) Skala dan pengisian informasi peta : Penentuan skala peta didasarkan pada tingkat ketelitian dan banyaknya informasi yang dibutuhkan mengenai keadaan daerah yang dipetakan. Nilai skala menentukan informasi gambar yang terdapat dalam peta. Peta dengan skala yang lebih besar akan memberikan gambaran yang lebih mendetail untuk daerah cakupan pemetaan.
      (b) Proyeksi peta  : Proyeksi peta adalah suatu ilmu yang berguna untuk menggambarkan informasi mengenai keadaan permukaan bumi yang diproyeksikan pada bidang datar. Permukaan bumi tidak digambarkan ke sebuah bidang datar, karena akan terjadi deformasi yang melampaui kesalahan relatif yang diperbolehkan. Dalam hal ini, perkembangan berbagai metoda proyeksi agar bentuk topografi suatu daerah di permukaan bumi dapat dipindahkan pada bidang datar dengan tingkat kesalahan sekecil mungkin.
      (c) Simbol-simbol pada peta : Peraturan untuk menginformasikan detail permukaan bumi dalam rangka pembuatan peta disebut simbol. Agar terjadi keseragaman, penggunaan simbol-simbol tersebut harus mengikuti standar universal, sehingga memudahkan pemakai dalam penggunaannya.
      1.6. Jenis-jenis Pengukuran Tanah
                 Banyaknya jenis pengukuran tanah bagi keperluan rekayasa memerlukan seseorang yang mengerti aspek-aspek dalam pengukuran, sehingga mereka yang membina karier di bidang pengukuran tanah dan pemetaan, harus memahami setiap tahapan pekerjaan, karena saling terkait.
      Jenis-jenis pengukuran tanah antara lain :
      (a) Pengukuran titik kontrol : yaitu untuk menetapkan jaringan kerangka horisontal dan vertikal yang berguna sebagai acuan untuk pengukuran yang lain.
      (b) Pengukuran persil, batas dan kadastral adalah pengukuran untuk menetapkan batas pemilikan tanah.
      (c) Pengukuran hidrografi : yaitu untuk menentukan garis pantai dan kedalaman danau, sungai laut dan lepas pantai, serta lingkungan kelautantermasuk pengukuran dan penyelidikan kelautan.
      (d) Pengukuran jalur lintas : yaitu pengukuran yang dilaksanakan untuk merencanakan, merancang dan membangun jalan baja, jalan raya, jalur pipa dan proyek-proyek dalam bentuk memanjang lainnya. Biasanya dimulai dari sebuah titik kontrol yang telah disepakati bersama oleh pihak yang terkait.
      (e) Pengukuran konstruksi : yaitu pengukuran yang dilaksanakan untuk memantau kemajuan proses konstruksi, mengendalikan evaluasi, kedudukan horisontal, ukuran-ukuran dan konfigurasi. Pengukuran ini juga penting dalam menghitung tahapan-tahapan pembiayaan konstruksi.
      (f) Pengukuran tambang : yaitu pengukuran yang dilaksanakan di atas dan di bawah tanah untuk pedoman penggalian terowongan dan pekerjaan-pekerjaan yang lain yang berkaitan dengan pertambangan termasuk survey untuk eksplorasi mineral dan sumber daya energi.
      1.7. Teori Kesalahan
                Teori kesalahan didasarkan bahwa tidak ada pengukuran yang tepat dan harga sebenarnya dari suatu pengukuran tidak dapat diketahui. Ketelitian pengukuran tanah tergantung pada, keandalan peralatan yang dipakai, kondisi alam dan batas kemampuan manusia dalam menginterpretasikan data guna lebih mendekati keadaan yang sebenarnya.
                 Kesalahan dapat terjadi karena faktor-faktor pendalaman permasalahan, kelalaian, pertimbangan yang kurang baik. Sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran dapat di kategorikan antara lain :
      • Kesalahan alamiah : disebabkan oleh perubahan cuaca, suhu, kelengasan udara, gaya berat.
      • Kesalahan instrumental : disebabkan oleh ketidak-sempurnaan konstruksi atau kesalahan pengaturan instrumen. Hal ini dapat diatasi dengan memakai prosedur pengukuran yang benar dan memberikan koreksi yang tepat.
      • Kesalahan pribadi : kesalahan ini dikarenakan kecerobohan pemakai dalam penggunaan alat tersebut.
      Jenis-jenis kesalahan dalam pengukuran, diantaranya yaitu :
      • Kesalahan sistematik : di kenal sebagai kesalahan kumulatif yang dapat dihitung dan pengaruhnya dihilangkan dengan cara memberikan koreksi.
      • Kesalahan acak : disebut kesalahan insidensial yang disebabkan oleh faktor-faktor di luar kekuasaan si pengamat.

      PELABUHAN



      BAB I
      PENDAHULUAN

      1.1. Perkembangan pelabuhan

                  Pada awalnya, pelabuhan hanya merupakan suatu tepian dimana kapal-kapal dan perahu-perahu dapat merapat dan bertambat untuk bisa melakukan bongkar muat barang, menaik turunkan penumpang dan kegiatan lain. Untuk bisa melakukan kegiatan tersebut maka pelabuhan harus tenang terhadap gangguan gelombang, sehingga pada masa itu pelabuhan berada di tepi sungai, teluk atau pantai yang secara alami terlindung terhadap gangguan gelombang. Dengan berkembangnya kehidupan sosial dan ekonomi penduduk suatu daerah atau negara maka kebutuhan akan sandang, pangan dan fasilitas hidup lainnya meningkat. Hasil produksi suatu daerah baik yang berupa hasil bumi maupun industri semakin banyak sehingga diperlukan pemindahan atau pemasaran barang ke daerah lain. Dengan demikian diperlukan sarana dan prasarana pengangkutan yang lebih memadai. Kapal yang semula sederhana dan kecil, sesuai dengan berkembangnya teknologi meningkat menjadi kapal-kapal besar dengan teknologi lebih canggih. Bahkan kemudian berkembang kapal-kapal khusus yang disesuaikan dengan barang yang diangkut, seperti kapal barang umum (general cargo ship), kapal barang curah, kapal tanker, kapal peti kemas, kapal pengangkut gas alam cair (LNG tanker), kapal penumpang, kapal ferry, kapal ikan, kapal keruk, kapal perang, dan lain sebagainya. Sejalan dengan itu, pelabuhan sebagai prasarana angkutan laut juga berkembang. Pelabuhan tidak lagi harus berada di daerah terlindung secara alami, tetapi bisa berada di laut terbuka, untuk mendapatkan perairan yang luas dan dalam, dengan membuat pemecah gelombang untuk melindungi daerah perairan. Tipe pelabuhan juga disesuaikan dengan kapal-kapal yang menggunakannya, sehingga ada pelabuhan barang, pelabuhan minyak, pelabuhan ikan , dan sebagainya. Daerah pelabuhan harus cukup luas yang menyediakan berbagai fasilitas untuk bongkar muat barang dan menaik turunkan penumpang.

      Untuk baca lebih lanjut, silahkan download bukunya  dengan klik link ini ---> Buku Perencanaan Pelabuhan
      Dan Terima kasih atas kunjungannya pada blog ini.

      STRUKTUR JEMBATAN




      BAB I

      PENDAHULUAN

      1. UMUM

                Seiring dengan kemajuan peradaban manusia, kebutuhan manusia akan terus meningkat, Keinginan agar kehidupannya aman dan nyaman senantiasa terus dicapai. Untuk itu dengan kemampuan berpikirnya manusia berusaha menciptakan hal-hal yang baru untuk membantu dan mempermudah pekerjaan sehari-harinya. Kesemuanya itu adalah untuk memperbaiki kehidupannya. Berangkat dari tujuan ini, untuk memperoleh sesuatu yang dapat memperbaiki hidupnya, mobilitas akan sering terjadi. Oleh karena itu  terjadi pergerakan sesuatu (barang/orang) dari satu tempat ke tempat lain. Untuk menunjang mobilitas tersebut, perlu adanya sarana dan atau prasarana penunjang lainnya, seperti jalan, jembatan, kendaraan dan sebagainya.
               Pada jaman dahulu, jalan setapak sudah dianggap sangat membantu. tapi lama kelamaan merasa perlu akan sarana jalan yang lebih baik seperti yang terlihat saat ini. Dalam perkembangan selanjutnya, karena keadaan geografis dan topografi daerah yang tidak memungkinkan jalan tersebut dibangun menerus seperti adanya sungai, lembah, bukit, maka diperlukan bangunan penghubung sepserti jembatan, terowongan.
                Dalam perkembangannya kebutuhan bangunan penghubung ini telah mampu membuka dan menghubungkan daerah-daerah terisolasi. Sehingga tujuan mobilisasi untuk memperbaiki kehidupan senantiasa tercapai.Jembatan dapat didefinisikan sebagai suatu bangunan yang memungkinkan suatu jalan menyilang sungai/saluran air, lembah atau menyilang jalan lain yang tidak sama tinggi permukaannya. Fungsi jembatan selain sebagai penghubung juga sangat bermanfaat untuk beberapa kepentingan, antara lain :
      • Pemerintahan
      • Ekonomi
      • Sosial
      • Perniagaan
      • Kebudayaan
      • Pertanahan
                  Pada awalnya, bila menemui hambatan/rintangan alam seperti sungai, untuk meneruskan perjalanan diperlukan alat angkut seperti rakit, perahu atau kapal. Tapi dalam perkembangan selanjutnya alat angkut ini dirasa kurang efektif dan efifien untuk beberapa kasus tertentu, oleh karena itu diperlukan jembatan sebagai penghubung.
      Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis / bentuk jembatan :
      • Memperlancar hubungan daerah
      • Secara teknis harus kuat
      • Harus dapat tahan lama
      • Ekonomis
      • Sifat : Permanen atau tidak
      • Keindahan / selaras dengan lingkungan


      IRIGASI DAN BANGUNAN AIR




      1. PENDAHULUAN

      1.1. LATAR BELAKANG
      Berdasarkaan kepustakaan mengenai sejarah kehidupan manusia, dapat diketahui bahwa hubungan antara manusia dengan sumber daya air sudah terjalin sejak berabad-abad yang lalu.
      Kerajaan-kerajaan besar yang sempat mencapai kejayaannya, baik di negara kita maupun di belahan dunia yang lain, sebagian besar muncul dan berkembang dari lembah dan tepi sungai (Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Mesir, Mesopotamia, dll.).
      Beberapa hal penting yang menyebabkan eratnya hubungan manusia dengan sumber daya air, dapat di sebutkan antara lain :
      a. Kebutuhan manusia akan kebutuhan makanan nabati :
      Untuk kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan juga makanan nabati. Jenis makanan ini di dapat manusia dari usahanya dalam mengolah tanah dengan tumbuhan penghasil makanan. Untuk keperluan tumbuh dan berkembangnya, tanaman tersebut memerlukan penanganan khusus, terutama dalam pengaturan akan kebutuhan airnya, Manusia kemudian membuat bangunan dan saluran yang berfungsi sebagai prasarana pengambil, pengatur dan pembagi air sungai untuk pembahasan lahan pertaniannya. Bangunan pengambil air tersebut berupa bangunan yang sederhana dan sementara berupa tumpukan batu, kayu dan tanah, sampai dengan bangunan yang permanen seperti bendung, waduk dan bangunan-bangunan lainnya.
      b. Kebutuhan manusia akan  kenyamanan dan keamanan hidupnya : Seperti telah diketahui bersama, dalam keadaan biasa dan normal, sungai adalah mitra yang baik bagi kehidupan manusia. Namun, dalam keadaan dan saat-saat tertentu, sungai pun adalah musuh manusia yang akan merusak kenyamanan dan keamanan hidupnya. Pada setiap kejadian dan kegiatan yang ditimbulkan oleh sifat dan perilaku sungai, manusia kemudian berfikir dan berupaya untuk sebanyak-banyaknya memanfaatkan sifat dan perilaku sungai yang menguntungkan dan memperkecil atau bahkan berusaha menghilangkan sifat yang merugikan kehidupannya. Manusia lalu membangun bangunan-bangunan air sepanjang sungai yang bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya air sungai, misalnya bendungan-bendungan, pusat listrik tenaga air ataupun membuat bangunan yang diharapkan akan dapat melindungi manusia terhadap bencana yang ditimbulkan oleh perilaku sungai, misalnya waduk, krib, tanggul, penahan lereng, bronjong dan fasilitas lainnya.
      Kenyataan sejarahpun kemudian membuktikan, bahwa manusia yang tidak bisa bersahabat dan melestarikan keberadaan sumber daya air yang ada, akan surut dan runtuh kejayaannya. Kehancuran tersebut tidak hanya semata-mata karena disebabkan oleh bencana yang ditimbulkan oleh perilaku sungai. namun kebanyakan merupakan proses akibat menurunnya fungsi sumber daya air sungai sehingga mematikan beberapa sarana dan prasarana yang penting bagi kehidupan manusia.


      PERENCANAAN TRANSPORTASI






      LINGKUP DAN KONTEKS

      1.1. PENDAHULUAN
      Setengah abad yang lalu, masalah transportasi barangkali belum merupakan sesuatu yang harus ditangani tersendiri, jumlah dan jarak perjalanan yang ditempuh seseorang nisbi masih terbatas. Hubungan antara satu tempat dengan tempat lain masih sulit, ukuran tempat permukiman masih sangat terbatas, kegiatan yang ada didalam permukiman itu pun masih belum seberapa.
      Sekarang, ukuran permukiman sudah sangat luas, yang kita kenal sebagai kota, bahkan di negara yang telah maju dikenal istilah kotarayaatau metropolis dan adikota atau megapolis dengan berbagai macam kegiatan ada di dalamnya. Kebutuhan untuk mengadakan hubungan pun sudah jauh berbeda dengan di masa lalu karena kebudayaan yang semakin maju dan saling mempengaruhi.
      Ketika manusia belum mengenal alat angkut, dan bahkan sampai dengan manusia memanfaatka penemuan roda dan menciptakan kendaraan beroda, belum dirasakan perlunya memikirkan dan merencanakan kegiatan transportasi. Perhubungan antara satu tempat dengan tempat lain dilakukan demikian saja dan bahkan sama sekali tidak dilalui satu jalur transportasi yang khusus dibuat. Tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan kebudayaan manusia, dan produksi berbagai jenis alat angkut dan perhubungan secara besar-besaran, simpang siur lalu lintas sudah tidak mungkin lagi lepas dari pengamatan dan perhitungan perencana.
      Meningkatnya jumlah manusia menyebabkan makin besarnya wilayah yang dihuni manusia dan makin besarnya jumlah lalu lintas. Ditambah dengan makin banyaknya jumlah jenis kendaraan yang beroperasi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, hal diatas telah menyebabkan transportasi menjadi masalah yang bharus ditangani secara khusus, walaupun tidak sendiri.
      Masalah yang dihadapi oleh kota besar dimanapun bukan hanya masalah sosial yang berbagai macam bentuknya, tetapi diantaranya adalah juga persoalan transportasi. Persoalan ini bukan masalah tersendiri, karena didalamnya terkandung juga faktor manusia, ekonomi, sarana dan prasarana, administrasi, dan berbagai faktor lainnya yang ada.
      Jumlah manusia yang makin banyak dan berada di suatu wilayah yang sama, kebutuhan mengunjungi suatu tempat yang sama pada saat yang sama, terbatasnya obyek yang bersama-sama dibutuhkan, telah menimbulkan berbgai konflik yang cukup gawat. Konflik ini tercermin dari lalu lintas sehari-hari di jalan, pemusatan berbagai jenis kendaraan di suatu tempat, jumlah manusia yang sama-sama memerlukan alat angkut yang sama, dan lain-lain.
      Semua hal tersebut diatas merupakan persoalan transportasi yang antara lain tercermin dalam bentuk meningkatnya kecelakaan lalu lintas. Persoalan ini tidak hanya terjadi di darat (kota) saja, tetapi bahkan sudah sejak lama menjadi persoalan di laut/air dan angkasa. Kita ketahui bahwa kecelakaan dan tabrakan tidak hanya terjadi didarat, tetapi juga terjadi di laut/air dan di angkasa.
      Perkembangan jaringan jalan kota yang tidak mampu mengejar (atau ketinggalan oleh) perkembangan sarana transportasi, telah menghadapkan kota yang sedang tumbuh pada tantangan masalah yang sangat pelik. Di satu pihak, kota dihadapkan pada kenyataan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk ruang kehidupan dan penghidupan penduduknya, dan lain pihak, kota juga dihadapkan pada tantang menyediakan berjalur-jalur lahan untuk prasarana lalu lintas.
      Banyak sekali kota yang berkembang tidak seimbang, perkembangan sosial ekonomi yang pesat tidak sejalan dengan perkembangan fisik yang lamban. Akibatnya, kota tersebut menderita berbagai penyakit yang sangat sukar disembuhkan. Salah satu diantaranya adalah penyakit pada pembuluh darahnya yang berupa jalur jalan. Kota dihadapkan pada persoalan transportasi angkutan berat. Kecelakaan meningkat, kemacetan terjadi dimana-mana, berbagai jenis kendaraan berjubel di jalan raya, disiplin lalulintas merosot, kemampuan atau daya dukung jalan dan jembatan tidak sesuai dengan beban yang harus didukungnya dengan akibat jalan cepat rusak, jembatan ambruk dan sebagainya. Kebutuhan penduduk akan  sarana transportasi dalam berbagai derajat ukuran kota telah mencapai titik kemampuan maksimum sarana yang ada.
      1.2. MAKSUD PERENCANAAN TRANSPORTASI
      Suatu perencanaan transportasi dimaksud untuk mengatasi masalah transport yang terjadi sekarang dan yang mungkin terjadi dimasa mendatang. walaupun masalahnya tidak akan terpecahkan secara tuntas, namun dapat merupakan jalan yang paling efektif untuk memanfaatkan sumber-sumber yang langka yang juga sangat dibutuhkan untuk sektor-sektor perumahan, pembuangan kotoran, drainase, kesehatan, pendidikan dan yang lainnya.
      Perkembangan jumlah penduduk, perindustrian dan ekonomi telah meningkatkan tuntutan kehidupan dan penhghidupan masyarakat yang harus diwujudkan dalam tata kehidupan pemukimannya. Kota adalah permukiman yang sudah maju dan untuk mewujudkan tata kehidupan yang mendekati ideal dituntut suatu perencanaan transportasi. Dengan lain perkataan, perencanaan wilayah ataupun daerah tidak mungkin terlepas dari perencanaan transportasi.
      Blunden (1971) mengaitkan perencanaan transportasi dengan tata guna lahan wilayah yang dikatakannya mempunyai dua tujuan pokok, yaitu :
      1. meningkatkan daya guna sistem yang sudah ada.
      2. merencanakan perkembangan dan merencanakan pertumbuhan di masa yang akan datang.
      Dari sini nyatalah sudah bahwa pada masa kini, perencanaan transportasi sudah merupakan kebutuhan yang tidak dapat di abaikan.
      Perencanaan transportasi sangat dibutuhkan sebagai konsekuensi dari (Overgaard, 1966, 12) pertumbuhan, keadaan lalu  lintas, dan perluasan wilayah.
      Yang pertama, pertumbuhan daerah, perlu direncanakan jika diketahui atau diharapkan bahwa penduduk disuatu tempat akan bertambah dan berkembang dengan pesat. Juga jika tingkat pendapatan penduduk di suatu tempat akan bertambah dan berkembang dengan pesat. Juga tingkat pendapatan penduduk meningkat, karena hal ini mengakibatkan meningkatnya jumlah kendaraan dan perumahan, peningkatan kepadatan rumah berarti peningkatan jumlah rumah.
      Yang kedua, yaitu keadaan lalu lintas, perlu ditinjau kembali kesesakan dan kemacetan di jalan meningkat, serta bila sistem pemindahan massa tidak ekonomis lagi sehingga perlu di koordinasi. Akhirnya, perluasan kota perlu dikendalikan bila pemerintah kota menghendaki agar perencanaan transportasi mempengaruhi perluasan kota tersebut.
      Persoalan lalu lintas, seperti halnya berbagai persoalan lain, timbul sebagai usaha menyatukan sejumlah tujuan yang berbeda-beda. Penduduk ingin bergerak dalam wilayahnya dengan cepat, aman, murah, dan nyaman. Lebih dari itu, ada 2 (dua) hal lain yang menambah masalah, yaitu adanya sejumlah keinginan yang terjadi pada saat yang sama, karena ikatan waktu, misalnya pergi ke tempat kerja, pergi belanja, pergi ke sekolah, dan lain-lain. Kedua, ada sejumlah keinginan untuk pergi dan/atau ke tempat yang sama, karena ikatan kebutuhan.
      Lalu lintas, secara umum, adalah pergerakan manusia dan/atau barang. Titik perhatian perencanaan transportasi adalah manusia dan barang. Jadi, perencana transportasi mutlak perlu mengetahui bagaimana (dengan cara apa) manusia dan barang tersebut bergerak dan dengan tujuan apa mereka bergerak.
      Hal bagaimana, misalnya, manusia melakukan perjalanan dengan menggunakan alat yang sesuai dengan kepentingannya. Bila hanya melakukan perjalanan dekat, ia akan berjalan. Apabila jarak perjalanan cukup jauh, ia membutuhkan alat gerak mekanis (sepeda, sepeda motor, mobil, bus dan sebagainya). Di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, kurang lebih 70 % perjalanan menggunakan sarana mekanis.
      Adapun tujuan orang melakukan perjalanan dengan maksud untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, misalnya berbelanja, bekerja, berwisata, dan lain-lain.

      Selasa, 14 Agustus 2012

      LAPANGAN TERBANG















































      BAB I
      SIFAT-SIFAT PESAWAT BERKENAAN DENGAN PERENCANAAN LAPANGAN TERBANG

      1. PENDAHULUAN

          Sebelum kita merancang sebuah Lapangan Terbang lengkap dengan fasilitasnya, dibutuhkan pengetahuan sifat-sifat pesawat terbang secara umum untuk merancang prasarananya.
      Pesawat terbang yang digunakan dalam operasi penerbangan mempunyai kapasitas yang bervariasi mulai dari 10 sampai 500 penumpang. Pesawat-pesawat terbang "General Aviation" dikategorikan semua pesawat-pesawat kecil yang bisa mengangkut penumpang / barang kurang dari 20 orang penumpang dan pengaturannya sebagai mobil pribadi untuk memberi gambaran macam-macam pesawat terbang yang melayani penerbangan komersil. Dalam tabel diberikan ukuran-ukurannya, berat, kapasitas angkut dan panjang landas pacu yang dibutuhkan. Pesawat terbang untuk taxi udara tidak dicantumkan, pada tabel berikutnya adalah gambaran konfigurasi roda pendaratan utama (Main Landing Gear) serta tekanan angin roda pesawat dari berbagai jenis pesawat.

          Perlu dijelaskan bahwa tabel-tabel ini untuk pengenalan beberapa besaran seperti "Operating Weight Empty" kapasitas penumpang dan panjang landasan adalah sebagai ancar-ancar mengingat bahwa besaran tersebut bisa dihitung dan hitungannya dipengaruhi oleh berbagai aspek.

      Pengertian dari istilah-istilah :

      Weigth ( berat ) :
          Ada beberapa istilah berat akan diterangkan dibelakang. Berat pesawat diperlukan untuk merencanakan tebal perkerasan dan kekuatan landas pacu (run way), taxi way dan Apron.

      Size ( ukuran ) :
         Lebar sayap dan panjang badan pesawat (Fuselag) mempengaruhi area parkir pesawat dan apron, selanjutnya mempengaruhi konfigurasi terminal, lebar landas pacu, taxi way, jarak antar keduanya sangat ditentukan oleh ukuran pesawat.

      Capacity ( kapasitas )
          Kapasitas penumpang mempunyai arti yang penting bagi perencanaan Gedung Terminal dan sarana lainnya.

      Panjang landas pacu :
           Berpengaruh terhadap luas tanah yang dibutuhkan oleh Lapangan Terbang, namun panjang landas pacu pada tabel  adalah ukuran perkiraan. Perhitungan landas pacu akan diberikan pada bab selanjutnya.
            Anggapan bahwa makin besar pesawat makin panjang landas pacu tidak selalu benar. Bagi pesawat besar, yang sangat menentukan kebutuhan panjang landasan adalah jarak yang akan ditempuh sehingga menentukan berat lepas landas (Take Off Weight). Maka dalam analisa "Panjang landas pacu yang dibutuhkan" taksiran jarak tempuh pesawat sangat penting.

      Piston Engine Air Craft :
          Pesawat yang digerakkan oleh perputaran baling-baling dengan tenaga mesin piston. Sebagian besar pesawat-pesawat kecil digerakkan oleh mesin piston.

      Turbo Prop :
            Pesawat digerakkan oleh baling-baling dengan tenaga mesin turbin.

      Turbo Jet :
         Gerak pesawat bukan didapat oleh putaran baling-baling melainkan oleh daya dorong dari tenaga semburan jet. Pesawat yang digerakkan oleh Turbo Jet sangat boros bahan bakar. Untuk mengatasi keborosan bahan bakar dibuat pesawat dengan tenaga Turbo Fan.

      Turbo Fan :
            Ditambahkan kipas (fan) didepan atau dibelakang turbinnya, sehingga dengan bahan bakar yang sama dengan turbo jet didapat tenaga penggerak yang lebih besar. 
      Fan biasanya ditempatkan didepan dari turbin induk. Sebagian besar pesawat- pesawat komersial yang sekarang beroperasi kebanyakan dari jenis Turbo Fan.

       2. SIFAT-SIFAT MESIN JET
           Mesin Jet dibagi dalam 2 jenis, yaitu : Turbo Jet dan Turbo Fan. Mesin Turbo Jet terdiri dari compresor, ruang bakar (Combustion Chamber) dan turbin dibagian belakang mesin.
      Turbo Fan pada dasarnya adalah mesin turbo jet, yang ditambahkan sudu-sudu, biasanya ditempatkan dibagian depan dari compresor, sudu-sudu ini dinamakan "Fan", sudu baris tunggal dinamakan "Single Stage" dan dua baris sudu disebut "Multi Stage".
      Pesawat-pesawat mesin turbin yang dilengkapi dengan air  ketika akan lepas landas, disebut "Mesin Basah", sedangkan untuk mesin turbin tanpa air disebut "Mesin Kering".
      Pembasahan dengan air pada pesawat mesin turbin dimaksudkan agar mesin bisa bekerja pada temperatur yang lebih tinggi, sehingga menambah daya dorong. Pada waktu lepas landas dibutuhkan tenaga daya dorong yang lebih besar.
      Daya dorong (Thrust) yang dipakai pada saat pesawat sedang terbang dengan kecepatan tetap (Cruising) adalah 1/5 - 1/4 tenaga yang dipakaipada waktu lepas landas. 
      Pemakaian bahan bakar oleh mesin pesawat dinyatakan dalam satuan berat ( Lbs, Kg ) per jam per kg daya dorong. Hal ini untuk menghindari kekacauan pengertian akibat kembang susut volume bahan bakar oleh perubahan temperatur, 1 gallon beratnya = 6,8 Lbs = 3,08 kg = 3 kg.

      Untuk baca lebih lanjut, Silahkan Download Disini -->  Lapangan_Terbang 

      Night Diamond Bloody Red - Busy Flicker